Selasa, 10 Januari 2012

ASKEP Antenatal Patologi dengan Plasenta Previa Totalis

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Pelayanan kesehatan masyarakat yang optimal merupakan salah satu upaya penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya pelayanan kesehatan itu ditujukan untuk mengatasi permasalahan bidang kesehatan salah satunya adalah meningkatnya angka kematian ibu dan bayi yang cukup tinggi (Risdiningrum. R, 2008).
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan persalinan adalah masalah besar di negara berkembang. Tahun 1995 World Health Organitation (WHO), Memperkirakan 1400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan.  Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama  mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitasnya (Saifuddin, 2002).
Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita usia subur berkaitan dengan kehamilan (Prawirohardjo. S, 2002). Faktor ini sebetulnya dapat diatasi dengan intervensi medis  yang tidak sulit. Namun, pemahaman tentang pencegahan dan penanganan belum benar-benar memasyarakatkan (Saifuddin,2002).
Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah                       Tangga (SKRT) 2001 menunjukkan bahwa sebab                        langsung kematian ibu didominasi oleh kejadian                        perdarahan (30%), preeklamsia dan eklamsi  sekitar (25%) dan infeksi (12%). Diharapkan  Pembangunan Jangka Panjang                 ke II (PJP II) tahun 2019 menjadi 60 - 80 per 100.000 kelahiran hidup (Rosaningtyas. FW, 2009).
Sebab langsung dari kematian bisa diatasi dengan intervensi kesehatan yang terpadu seperti dengan memberikan akses pelayanan kesehatan serta membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih terjangkau. Disamping itu mutunya juga harus ditingkatkan. Angka kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan masih menduduki tingkat tertinggi. Perdarahan ini berupa komplikasi dari kehamilan, persalinan dan masa nifas. Salah satu komplikasi dari kehamilan adalah plasenta previa (Prawirohardjo.S,2002).
Placenta-previa artinya "plasenta di depan" (previa = depan). Artinya, plasenta berada lebih "depan" dari pada janin yang hendak keluar. Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram (Rosaningtyas. FW, 2009).
Normalnya plasenta terletak di bagian fundus (bagian puncak/atas rahim), bisa agak ke kiri atau ke kanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah apalagi menutupi jalan lahir. Sebaliknya, plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir dan  terlepas sebelum waktunya.
Wanita dengan jarak kelahiran <15 bulan mempunyai kemungkinan 2 kali lebih besar untuk terjadinya plasenta previa dibandingkan wanita dengan jarak kelahiran ≥15 bulan. Variabel lain yang berpengaruh terhadap kejadian plasenta previa adalah umur >35 tahun, dengan riwayat abortus (Risdiningrum.R,2008).
Jika dokter mendiagnosis adanya suatu plasenta                  previa atau plasenta letak rendah sebelum usia                      kehamilan 20 minggu, kemungkinannya masih dapat berubah. Sekitar 90 % kasus-kasus plasenta previa yang didiagnosis sebelum usia kehamilan 20 minggu akan mengalami perubahan pada akhir kehamilannya. Sesuai dengan pertumbuhan uterus, posisi plasenta terhadap serviks dapat berubah. Pada akhir kehamilan, plasenta tidak lagi menutupi jalan lahir.
Kejadian plasenta previa di Amerika Serikat                 sebanyak 0,3 - 0,5% dari semua kelahiran. Ada peningkatan risiko sebesar 1,5 sampai 5 kali lipat jika disertai riwayat seksio sesarea (Risdiningrum. R, 2008). Literatur Negara Barat melaporkan frekuensi plasenta previa di negara - negara berkembang berkisar             antara 1-4%. Menurut jenisnya, Eastman melaporkan                plasenta previa totalis 20%, lateralis 30% dan letak                 rendah 50% (Prawirohardjo. S, 2002).
Kasus ini masih menarik dipelajari karena faktor predisposisi yang masih sulit dihindari, prevalensinya masih tinggi serta punya peran  besar dalam angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan parameter pelayanan kesehatan. Selain itu,                 kejadian plasenta previa bervariasi diberbagai tempat berkisar antara 0,3%-0,6% dari persalinan, sedangkan di rumah sakit lebih tinggi karena menerima rujukan dari luar (Prawirohardjo. S, 2002).
Menurut cacatan medical record di RSUD Labuang                  Baji Makassar, pada tahun 2007 dari 1124 persalinan                          dan tahun 2008 terdapat 9 orang (0,74%) kasus  plasenta previa       dari 1204 persalinan. Sedangkan  tahun 2009 dari 1325 persalinan. terdapat 12 orang (0,90%).
Walaupun angka kejadian plasenta previa tidak terlalu tinggi, namun akibat atau dampak yang ditimbulkan begitu berat terutama jika syok hipovolemik yang berlanjut pada kematian ibu dan janin.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis terdorong untuk mengkaji lebih lanjut permasalahan yang mungkin timbul pada klien yang mengalami plasenta previa dan memaparkan melalui manajemen Asuhan Kebidanan Antenatal pada klien yang sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.

B.   Ruang Lingkup Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis melaksanakan manajemen asuhan kebidanan antenatal patologi dengan plasenta previa.

C.   Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Umum
Mampu melaksanakan Manajemen Asuhan kebidanan Antenatal Patologi Pada Klien Dengan Plasenta Previa
2.    Tujuan Khusus
a.    Dilakukannya pengumpulan data dan analisa data dasar dengan kasus plasenta previa totalis
b.    Dilakukannya perumusan diagnosa/masalah aktual dengan kasus plasenta previa totalis
c.    Dilakukannya perumusan diagnosa/masalah potensial dengan kasus plasenta previa totalis
d.    Dilakukannya pelaksanaan tindakan segera, kolaborasi dan konsultasi dengan kasus plasenta previa totalis
e.    Dilakukannya perumusan rencana tindakan asuhan kebidanan dengan kasus plasenta previa totalis.
f.     Dilakukannya pelaksanaan tindakan asuhan kebidanan dengan kasus plasenta previa totalis.
g.    Dilakukannya evaluasi asuhan kebidanan dengan kasus plasenta previa totalis.
h.    Dilakukannya pendokumentasian asuhan kebidanan dengan kasus plasenta previa totalis.

D.   Manfaat Penulisan
1.    Bagi Institusi
Hasil studi kasus diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan merupakan bahan bacaan bagi penulis selanjutnya.
2.    Bagi RSUD Labuang Baji Makassar
Dapat menjadi bahan informasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sesuai dengan standarisasi pelayanan.
3.    Bagi penulis
Merupakan pengalaman yang bagi penulis dalam memperluas wawasan dalam memperluas cakrawala berfikir.

E.   Metode Penulisan
Metode yang digunakan untuk penulisan karya tulis ini adalah :
1.    Studi Kepustakaan
Dimana penulis mempelajari buku-buku literatur-literatur dan informasi melalui internet yang berhubungan dengan pendarahan Antepartum khususnya mengenai plasenta previa.
2.    Studi Kasus
Menggunakan pendekatan proses manajemen komprehensif, yang dihimpun dari pengkajian hingga evaluasi didapatkan dengan menggunakan metode :
a.    Wawancara
Melakukan wawancara pada klien, keluarga dan petugas kesehatan secara langsung yang berhubungan dengan masalah yang dialami klien dengan menggunakan instrument pengumpulan data (Terlampir).
b.    Observasi
Memperoleh data dengan cara observasi dan pamantauan secara langsung pada klien.
c.    Pemeriksaan fisik
Melakukan pemeriksaan fisik mulai dari kepala hingga kaki dengan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.
d.    Pemeriksaan penunjang
Memperoleh data dengan membaca hasil laboratorium dan USG yang ada status klien.
3.    Studi Dokumentasi
Mempelajari status klien berdasarkan catatan medik yang terkait dengan kasus klien.


Setelah pada Bab I diuraikan tentang latar belakang, ruang lingkup masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, maka selanjutnya akan diuraikan tentang tinjauan pustaka pada Bab selanjutnya (Bab II ).










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.   Tinjauan Umum Tentang Perdarahan Antepartum
1.    Pengertian perdarahan Antepartum
a.    Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih (Prawirohardjo.S, 2002)
b.    Perdarahan Antepartum adalah perdarahan jalan lahir  setelah kehamilan 20 minggu (Sastrawinata. S, 2004).
c.    Perdarahan Antepartum didefinisikan sebagai perdarahan dari jalan lahir pada kehamilan lanjut, setelah 28 minggu kehamilan dan sebelum tanda mulainya persalinan (Manuaba, 2008)
Berdasarkan pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa perdarahan antepartum adalah  perdarahan dari jalan lahir yang terjadi baik pada           trimester II maupun trimester III sebelum ada tanda mulainya persalinan.
2.    Efek terhadap janin
a.    Kematian dan kesakitan janin sangat tinggi sebagai akibat dari perdarahan pervaginam yang hebat.
b.    Pelepasan plasenta secara dini dan konsekuensi hipoksia dapat mengakibatkan lahirnya bayi dengan cacat mental dan cacat fisik.
3.    Efek terhadap ibu
a.    Jika terjadi perdarahan hebat dapat menyebabkan :
1)    Syok.
2)    Penyakit gangguan pembekuan darah.
3)    Gagal ginjal.
b.    Ibu dapat meninggal atau hidup dengan penyakit yang menetap.
4.    Klasifikasi
Perdarahan antepartum dapat berasal dari :
a.    Kelainan plasenta
Plasenta previa, solusio plasenta (Abruptio Plasenta), atau perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya, seperti:
1)    Insersio pelamentosa.
2)    Rupture sinusmarginalis.
3)    Plasenta sirkum valata.
b.    Penanganan umum
1)    Siapkan fasilitas tindakan darurat karena perdarahan antepartum merupakan komplikasi yang dapat membahayakan keselamatan ibu.
2)    Setiap tindakan fasilitas pelayanan harus dapat mengenali, melakukan stabilitas merujuk dan menatalaksanakan komplikasi pada ibu dan anak sesuai dengan jenjang kemampuan yang ada.
3)    Setiap kasus perdarahan antepartum memerlukan rawat inap dan penatalaksanaan segera.
4)    Lakukan resforasi cairan dan darah sesuai dengan keperluan untuk memenuhi defisit gawat darurat yang terjadi.
5)    Tegakkan diagnosis kerja secara cepat dan akurat karena hal ini sangat mempengaruhi hasil penatalaksanaan perdarahan antepartum.
6)    Tindakan konservatif dilakukan selama kondisi masih memungkinkan dan mengacu pada upaya memperbesar kemungkinan hidup bayi yang dikandung.
7)    Pada kondisi yang sangat gawat, keselamatan ibu merupakan pertimbangan utama.

B.   Tinjauan Khusus Tentang Plasenta Previa
1.    Definisi Plasenta Previa
a.    Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada segmen bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (Prawirohardjo.S, 2002).
b.    Plasenta previa adalah perdarahan yang terjadi pada implantasi plasenta yang menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (Manuaba, 2008).
c.    Plasenta previa adalah plasenta yang terletak menutupi               atau sangat dekat dengan ostium uteri internum (Cunningcham, 2001).
Beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat yang abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum dan menyebabkan terjadinya perdarahan.
2.    Definisi Plasenta Previa Totalis
a.    Plasenta previa totalis adalah plasenta menutupi ostium  uteri internum pada pembukaan 4 cm atau bila pusat plasenta bersamaan dengan sentral kanalis servikalis (Manuaba, 2008 ).
b.    Plasenta previa totalis adalah apabila ostium                      internum serviks tertutup sama sekali oleh plasenta (Risdingrum. R, 2008).
Beberapa pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa plasenta previa totalis adalah letak plasenta menutupi seluruh ostium uteri internum pada pembukaan 4 - 5 cm karena pada pembukaan yang masih kecil seluruh pembukaan tertututup jaringan plasenta.
3.    Efek-Efek Plasenta Previa
a.    Pemisahan plasenta dari dinding rahim (Solusio Plasenta).
b.    Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapat menyebabkan histerektomi (operasi pengankatan rahim).
c.    Plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta prekreta.
d.    Kelahiran bayi sebelum waktunya (prematur).
e.    Kecacatan pada bayi.
(Saifuddin. AB, 2002)
4.    Etiologi
Implantasi plasenta dibawah segmen rahim dapat disebabkan :
a.    Endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi.
b.    Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mampu memberikan nutrisi pada janin.
c.    Vilicorealis pada korion leave yang persisten.
(Mochtar. R, 2004)
5.    Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kejadian plasenta   previa :


a.    Umur penderita
1)    Umur kurang dari 19 tahun dapat mengalami plasenta previa karena endometrium masih belum sempurna.
2)    Umur diatas 35 tahun karena pertumbuhan endometrium yang kurang subur.
b.    Paritas
Pada paritas yang tinggi kejadian plasenta previa makin besar karena endometrium belum sempat tumbuh.
c.    Endometrium yang cacat
1)    Bekas persalinan dengan jarak pendek.
2)    Bekas operasi, bekas kuretase atau plasenta manual.
3)    Perubahan endometrium pada mioma uteri atau polip.
4)    Pada keadaan malnutrisi.
(Mochtar. R, 2001)
6.    Klasifikasi plasenta previa
Gambar 1
    
Plasenta previa dalam bentuk klinis dibagi menjadi empat derajat :
a.    Tipe I (Letak rendah)
1)    Lokasi lebih banyak pada segmen atas uterus.
2)    Persalinan pervaginam mungkin dapat dilakukan.
3)    Perdarahan selalu sedikit.
4)    Kondisi ibu dan janin biasanya baik.
5)    Pinggir plasenta tidak menyentuh ostium uteri internum.
b.    Tipe II (Marginalis)
1)    Plasenta previa berlokasi pada segmen bawah dekat ostium uteri internum (menyentuh sedikit).
2)    Persalinan pervaginam mungkin dapat dilakukan pada bagian anterior.
3)    Perdarahan selalu banyak walaupun kondisi ibu dan bayi akan bervariasi.
4)    Hipoksia janin lebih sering dibanding syok bagi ibu. 
c.    Tipe III (Parsialis)
1)    Lokasi plasenta pada ostium internum tapi tidak persis   di tengah-tengah.
2)    Perdarahan biasanya hebat khusus pada saat segmen bawah rahim (SBR) dan serviks mulai tertarik dan dilatasi pada akhir kehamilan.
3)    Tidak mungkin persalinan pervaginam, oleh karena plasenta berada di depan janin di jalan lahir.
4)    Menutupi seluruh ostium internum tapi hanya sebagian mulut rahim

d.    Tipe IV (Totalis)
1)    Lokasi plasenta tepat di tengah-tengah diatas ostium uteri internum dan menutupi seluruh jalan lahir atau mulut rahim.
2)    Perdarahan hebat terjadi.
3)    Tidak mungkin persalinan pervaginam.
4)    Seksio sesarea esensial  untuk menyelamatkan ibu.
(Mochtar. R,  2001)
Namun demikian klasifikasi tentang plasenta previa  belum ada kata sepakat para ahli, terutama mengenai berapa pembukaan jalan lahir. Oleh karena pembagian tidak didasarkan pada keadaan anatomi, melainkan pada keadaan fisiologi yang dapat berubah-ubah maka klasifikasi akan berubah setiap waktu.
a.    Menurut De Snoo, berdasarkan pada pembukaan 4-5 cm.
1)    Plasenta previa sentrakalis (totalis), bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi ostium.
2)    Plasenta previa lateralis, bila pada pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta, dibagi dua: plasenta lateralis posterior, bila sebagian menutupi ostium bagian belakang dan plasenta previa lateralis anterior, bila menutupi ostium bagian depan.
3)    Plasenta previa marginalis bila sebagian kecil atau hanya pinggir ostium yang ditutupi plasenta.
b.  Menurut penulis buku-buku Amerika Serikat
1)    Plasenta previa totalis: seluruh ostium ditutupi plasenta.
2)    Palsenta previa partialis: sebagian ostium ditutupi plasenta.
3)    Plasenta letak rendah; pinggir plasenta               berada 3-4 cm di atas pinggir pembukaan, pada pemeriksaan dalam tidak teraba.
c.  Menurut Browne
1)    Tingkat 1( Lateral plasenta previa)
Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai kesegmen bawah rahim namun tidak sampai kepinggir pembukaan.
2)    Tingkat 2 (Marginali plasenta previa)
Plasenta mencapai pinggir pembukaan (ostium).
3)    Tingkat 3 (Complete plasenta previa)
Plasenta menutupi ostium waktu tertutup, dan tidak menutupi bila pembukaan hampir lengkap.

4)    Tingkat 4 (Central plasenta previa)
Plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap.    
7.    Tanda/Gejala Plasenta Previa
a.    Perdarahan tanpa rasa sakit pada saat tidur atau sedang melakukan aktifitas.
b.    Umumnya terjadi pada trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan.
c.    Darahnya berwarna merah segar.
d.    Bagian terendah janin belum masuk pintu atas panggul.
e.    Biasanya terjadi kelainan letak seperti letak lintang atau letak sungsang.
8.    Patofisiologi
Plasenta previa adalah plasenta di segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh kanalis servikalis dan menunggu proses persalinan dengan terjadinya perdarahan.
Terjadinya plasenta previa dapat disebabkan karena endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi hal ini dapat dipengaruhi oleh umur penderita yang masih mudah sehingga endometrium masih belum sempurna atau umur   diatas 35 tahun karena endometrium yang kurang subur.
Selain itu, apabila aliran darah ke plasenta tidak               cukup atau diperlukan lebih banyak seperti pada kehamilan kembar, plasenta letaknya normal dapat terjadi perluasan pada permukaannya sehingga mendekati atau menutupi sama sekali permukaan jalan lahir (Saifuddin. AB, 2002).
9.    Diagnosis
Diagnosis plasenta ditegakkan berdasarkan pada gejala klinik, pemeriksaan khusus dan pemeriksaan penunjang :
a.    Anamnese plasenta previa
1)    Terjadi perdarahan pada kehamilan sekitar 28 minggu
2)    Sifat  perdarahan :
a.    Tanpa rasa sakit terjadi secara tiba-tiba.
b.    Tanpa sebab yang jelas.
c.    Dapat berulang.                                                                                                                                                                                                        
3)    Perdarahan menimbulkan penyulit pada ibu maupun janin dalam rahim.
b.    Pada inspeksi yang dijumpai
1)    Perdarahan pervaginam encer sampai bergumpal.
2)    Pada perdarahan yang banyak, ibu tampak anemis.
c.    Pemeriksaan fisik ibu
1)    Dijumpai keadaan bervariasi dari keadaan normal sampai syok.
2)    Kesadaran pemeriksaan bervariasi dari kesadaran baik sampai koma.
3)    Pada pemeriksaan dapat dijumpai :
a.    Tekanan darah, nadi dan pernapasan dalam batas normal.
b.    Tekanan darah turun, nadi dan pernapasan meningkat.
c.    Daerah ujung menjadi dingin.
d.    Tampak anemis.
d.    Pemeriksaan khusus kebidanan
1)    Pemeriksaan palpasi abdomen
a.    Janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur kehamilan.
b.    Karena plasenta di segmen bawah rahim, maka dapat dijumpai letak janin dalam rahim dan bagian terendah masih tinggi.
c.    Denyut jantung janin ada. 
2)    Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan dalam dilakukan di atas meja operasi dan siap untuk segera mengambil tindakan. Tujuan pemeriksaan dalam untuk :
a.    Menegakkan diagnosa pasti
b.    Mempersiapkan tindakan untuk melakukan operasi persalinan atau hanya memecahkan ketuban. ostium uteri internum.

3)    Pemeriksaan penunjang
Ultrasonografi (USG) untuk menentukan letak plasenta, cara ini ternyata sangat tepat, tidak meninbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya serta tidak menimbulkan rasa nyeri.
10.  Komplikasi plasenta previa
a.    Prolaps tali pusat.
b.    Prolaps plasenta.
c.    Plasenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau dibersihkan dengan kerokan.
d.    Robekan-robekan jalan lahir karena tindakan.
e.    Perdarahan post portum.
f.     Infeksi karena perdarahan yang banyak.
g.    Bayi premature atau lahir mati
(Manuaba, 2008).
11. Penanganan
a.    Terapi ekspektatif
1)    Tujuan terapi ekspektatif ialah supaya janin tidak terlahir premature, dan upaya diagnosis dilakukan secara non infasif.
Syarat-syarat terapi ekspektatif :
a)    Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.
b)    Belum ada tanda-tanda inpartu.
c)    Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal).
d)    Janin masih hidup.
2)    Rawat inap tirah baring dan berikan antiobiotik profilaksis.
3)    Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta, usia kehamilan, profil biofisik, letak dan presentasi janin.
4)    Perbaiki anemia dengan pemberian sulfaferosus atau fimarat per oral 60 mg selama 1 bulan.
5)    Pastikan terdapat sarana untuk melakukan transfusi.
6)    Jika perdarahan berhenti dan waktu mencapai 37 minggu masih lama, dapat dirawat jalan (kecuali rumah pasien diluar kota atau diperlukan waktu lebih dari 2 jam untuk mencapai rumah sakit).
7)    Jika perdarahan berulang pertimbangkan manfaat dan resiko ibu dan janin untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dibandingkan dengan terminasi kehamilan (Prawirohardjo. S , 2002).
b.    Terapi aktif (Tindakan segera)
1)    Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera dilaksanakan secara aktif tanpa memandang maturitas janin.
2)    Untuk diagnosis plasenta previa dan menentukkan cara menyelesaikan persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan Pemeriksaan Dalam di Meja Operasi (PDMO) jika :
a)    Infuse/transfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap.
b)    Kehamilan ≥ 37 minggu (berat badan ≥ 2500 gram) atau inpartu.
c)    Janin telah meninggal atau terdapat anomaly congenital mayor (Misal : Anensefali).
d)    Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu atas panggul (2/5 atau 3/5 pada palpasi luar).
Persalinan dengan seksio sesarea diindikasikan untuk plasenta previa totalis baik janin mati atau hidup. Plasenta previa lateralis dimana pembukaan < 4 cm atau serviks belum matang, plasenta previa dengan perdarahan yang banyak dan plasenta previa dengan gawat janin     (Prawirohardjo. S, 2002).


c.    Penanganan plasenta previa sentralis (totalis)
1)    Untuk menghindari perdarahan yang banyak, maka pada plasenta previa totalis dengan janin hidup atau meninggal, tindakan yang paling baik adalah seksio sesarea.
2)    Walaupun tidak pernah dikerjakan lagi, namun untuk diketrahui pada janin mati, di daerah pedesaan dapat dilakukan penembusan plasenta, kemudian dilakukan cunam willet gausz atau versi Braxton-Hick untuk melahirkan janin.
d.    Penanganan plasenta previa lateralis dan marginalis
1)    Lakukan amniotomi.
2)    Berikan oxytocin (pituitiria, pitosin sintosinon) tiap setengah jam 2,5 satuan atau perinfus drips.
3)    Bila dengan amnotomi perdarahan belum berhenti, dilakukan cunam Willet gausz atau versi Braxton Hicks.
4)    Bila semua ini belum berhasil untuk menghentikan perdarahan, bila janin masih hidup lakukan seksio sesarea.
5)    Pada plasenta previa lateralis posterior dan plasenta previa lateralis yang bagian besarnya menutupi ostium (grote lop), sering langsung dilakukan seksio sesarea, karena secara anatomis dengan cara di atas perdarahan agak sukar dikontrol.
Pada kasus plasenta previa dengan perdarahan yang banyak baik totalis maupun plasenta previa lainnya harus segera dilakukan seksio sesarea demi menyelamatkan ibu dan janin (Mochtar. R, 2004).
a.    Pengertian Sectio Sesarea
1)    Sectio sesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gr (Saifuddin. AB, 2002).
2)    Sectio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Manuaba, 2008).
b.    Indikasi Sectio Sesarea
Dahulu sectio sesarea dilakukan atas tindakan yang terbatas pada panggul sempit dan plasenta previa. Sekarang angka kejadian sectio sesarea meningkat disebabkan karena berkembangnya indikasi dan makin kecilnya teknik operasi anastesi serta ampuhnya antibiotika dan kemoterapi
.
Adapun indikasi sectio sesarea yaitu :
1)    Indikasi ibu
a)    Plasenta previa.
b)    Panggul sempit.
c)    Disproporsi sefalopelvik.
d)    Ruptur uteri mengancam.
e)    Partus lama (prolonged labout dan partus tidak maju).
f)     Pre-eklampsia dan hipertensi.
g)    Tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruktif.
2)    Indikasi Janin
a)    Malpresentasi janin atau kelainan letak                seperti letak lintang, letak bokong, presentasi dahi dan muka, gamelli.
b)    Gawat janin.
c.    Persiapan Seksio Sesarea
1.    Persiapan Kamar Operasi
a.    Kamar operasi telah dibersihkan dan siap untuk dipakai.
b.    Peralatan dan obat-obatan telah siap semua termasuk kain operasi
.
2.    Persiapan Pasien
a.    Pasien telah dijelaskan tentang prosedur operasi.
b.    Informed consent telah ditanda tangani oleh pihak keluarga pasien.
c.    Perawat member support kepada pasien.
d.    Daerah yang akan di insisi telah dibersihkan (rambut pubis dicukur dan sekitar abdomen telah dibersihkan dengan antiseptic).
e.    Pemeriksaan tanda-tanda vital dan pengkajian untuk mengetahui penyakit yang pernah di derita oleh pasien.
f.     Pemeriksaan laboratorium (darah, urine).
g.    Pemeriksaan USG.
h.    Pasien puasa selama 6 jam sebelum dilakukan operasi.
i.      Premidikasi yang harus diberikan adalah atropin.
j.      Periksa ulang darah rutin, fungsi hati, fungsi ginjal dan gula darah.
k.    Baju pasien diganti dengan baju khusus operasi.
l.      Pasang infuse, ringer laktat atau larutan              NaCl 0,9%.
m.  Baringkan pasien pada posisi tidur (pasang tensimeter/steteskop pre coordial).
n.    Dipasang folley kateter.
3.  Persiapan Penolong
a.    Memakai baju khusus kamar operasi lengkap dengan topi,masker dan sandal.
b.    Mempersiapkan alat-alat/instrument operasi termasuk: alat penghisap darah/cairan. Alat resusitasi bayi, oksigen dan sebagainya.
c.    Menyiapkan obat-obatan yang diperlukan. Periksa ulang persiapan darah.
d.    Penolong mencuci tangan, lalu memakai sarung tangan.
e.    Pasien pada posisi terlentang keadaan sudah dinarkose. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik. Pasang  kain penutup 4-5 buah yang sesuai dengan kebutuhan.
f.     Lakukan tindakan Operasi, insisi mediana dengan pisau secara benar. Perdalam sayatan pada dindng abdomen sampai menembus peritoneum dan perlebar hingga sekitar 12 cm.
g.    Observasi kondisi ataupun kelainan pada uterus, adneksa dan parametrium dengan jalan menarik dinding abdomen ke kiri dan ke kanan.
h.    Angkat dinding perut dan rekraktor, selipkan kasa lebar basah melingkup sisi uterus gravidusa untuk menampilkan dinding depan uterus dan menyisihkan usus, ovarium, tuba dan organ intraabdominal lainnya.
i.      Sayat segmen bawah uterus dengan menggunakan pisau, kemudian pecahkan ketuban dan hisap cairan yang keluar.
j.      Luksir keluar kepala janin, kemudian lahirkan seluruh tubuh dengan cara yang sesuai. Bersihkan seluruh muka janin dengan kain kasa lembab.
k.    Tali pusat dijepit pada jarak 3-5 cm dari umbilicus dan gunting. Bayi diserahkan kepada dokter anak untuk perawatan selanjutnya.
l.      Plasenta dilahirkan dengan melepasnya secara manual dari tempat implantasi, kemudian tarik tali pusat dan sedikit menekan fundus.
m.  Tepi luka insisi pada segmen bawah uterus dijepit dengan klem fenster/forester, terutama pada kedua ujung luka sayatan.
n.    Dilakukan eksplorasi kedalam kavum uteri dengan kasa yang dijepitkan pada klemfenster atau dengan menggunakan 2-3 jari tangan operator yang dibalut dengan kasa. Pastikan tidak ada bagian plasenta yang tertinggal.
o.    Dilakukan jahitan hemostatis dengan             simpul 8 (figure of eight) pada kedua ujung robekan uterus dengan menggunakan benang polyglikolic atau kromik cat gut no.0/1/0 dilanjutkan dengan penjahitan segman bawah secara jelujur terkunci.
p.    Pastikan tidak adanya perdarahaan melalui evaluasi ulang luka jahitan. 
q.    Keluarkan kasa basah, bersihkan rongga abdomen dan lakukan periksa ulang untuk meyakinkan tidak adanya perdarahan dari tempat jahitan atau di tempat lain.
r.     Fasika abdominalis pada ujung proksimal dan distal sayatan dijepit dengan kocher dan dijahit hingga subkutis.
s.    Kulit dijahit dengan nylon atau polyglikolic acidsecara subkutikuler.
t.      Luka operasi ditutup dengan kasa dan povidon iodin.
u.    Kain penutup abdomen dilepas hati-hati tanpa menyentuh kasa penutup luka operasi.
v.    Vagina dibersihkan dari sisa darah dan bekuan dengan menggunakan kasa yang dijepit pada fenster/forester klem.
w.   Daerah sampai paha dibersihkan dari sisa darah atau cairan tubuh. (Saifuddin. AB, 2002)
12. Prognosis
1.    Lima puluh persen wanita dengan plasenta previa memiliki
kehamilan (delivery) preterm.
2.    Kasus-kasus tersebut dipersulit dengan perdarahan vagina dan extreme prematurity yang dapat meningkatkan risiko kematian  perinatal.
3.    Insiden malformasi janin (fetal malformation) yang lebih besar dan hambatan pertumbuhan (growth restriction) haruslah diwaspadai pada kasus plasenta previa.
(Manuaba, 2008)
C.   Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
1.  Pengertian proses manajemen asuhan kebidanan
Proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk pengorganisasian pemikiran, tindakan dan perilaku pada setiap langkah agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat dicapai.
Proses manajemen harus mengikuiti urutan yang logis dan memberikan pengertian yang menyatakan pengetahuan, hasil temuan dalam penilaian yang terpisah-pisah menjadi suatu kesatuan yang berfokus pada manajemen ibu.
Proses manajemen terdiri dari 7 (tujuh) langkah berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses ini dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi.
2.  Tahapan dalam Manajemen Asuhan Kebidanan menurut Varney’s Midwifery.
a.    Langkah I. Identifikasi dan Analisa Data Dasar
Merupakan langkah awal dari manajemen kebidanan langkah yang merupakan kemampuan intelektual dalam mengindetifikasi masalah ibu. Pada tahap ini merupakan dasar langkah selanjutnya. Kegiatan yang dilaksanakan dalam langkah identifikasi data dasar meliputi :
1)    Pengumpulan Data
      Dalam pengumpulan data mencari dan menggali data atau informasi, baik dari ibu, keluarga, maupun tim kesehatan lainnya atau data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan pada pencatatan dokumen medik.
Hal-hal yang dilakukan dalam pengumpulan data :
a)    Wawancara/Anamnese
Wawancara adalah tanya jawab yang dilakukan dengan ibu, keluarga klien maupun tim medis lainnya.
Hasil yang didapat terjadi perdarahan tanpa rasa sakit secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas  dan dapat berulang.
b)    Observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang merupakan pengumpulan data yang tidak dapat dipisahkan  dengan observasi.
Hasil yang didapat perdarahan pervaginam encer sampai bergumpal pada perdarahan yang banyak ibu tampak anemis.
2)    Pengolahan data
Setelah data dikumpulkan secara lengkap dan benar, maka selanjutnya dapat dikelompokkan dalam data subjektif antara lain adalah identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit, riwayat menstruasi, riwayat ginekologi, KB, latar belakang budaya, pengetahuan dan dukungan keluarga serta keadaan psikososial.
Berdasarkan teori plasenta previa akan diperoleh data adanya gejala perdarahan awal yang pada umumnya hanya berupa perdarahan bercak atau ringan dan berhenti secara spontan, kadang-kadang terjadi waktu bangun tidur, setelah miksi atau defakasi aktivitas fisik, kontraksi Braxton Hicks atau koitus.
Klien akan mengeluh perdarahan tanpa nyeri berupa darah segar atau kehitaman dengan pada umur kehamilan > 22 minggu, tidak jarang perdarahan pervaginam baru terjadi pada saat inpartu dengan jumlah perdarahan tergantung dari jenis plasenta previa. Pada pengkajian dikeluhkan keluar darah dari jalan lahir berwarna merah segar, ibu mengeluh perdarahan tanpa nyeri yang sebelumnya pernah dialami dan berhenti secara tiba-tiba, umur kehamilan sekitar 28 minggu.
Menyangkut keadaan umum, tanda-tanda vital, dan hasil pemeriksaan fisik. Keluhan ibu dijumpai keadaan yang bervariasi dari keadaan normal dengan tand-tanda vital normal sampai keadaan syok dengan tekanan darah turun, nadi dan pernapasan meningkat, daerah ujung menjadi dingin serta tampak anemis.
Pada palpasi abdomen janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur kehamilan, adanya kehamilan letak janin serta bagian terendah masih tinggi. Detak jantung janin dalam batas normal samapi asfiksia dan kematian dalam rahim.
Selain pemeriksaan-pemeriksaan diatas, tanda dan gejala didapatkan melalui pemeriksaan penunjang yaitu hasil pemeriksaan laboratorium, rontgen dan ultrasonografi.
b.    Langkah II. Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
Menginterpretasikan data secara khusus (spesifik) ke dalam suatu rumusan diagnosa atau masalah. Diagnosa lebih sering diidentifikasi oleh bidan yang difokuskan          pada apa yang dialami oleh seorang individu, sedang masalah yang berhubungan dengan bagaimana seseorang merugikan suatu kenyataan yang dia rasakan atau yang dialami sebagai suatu masalah.
Berdasarkan teori penentuan diagnosis plasenta previa dengan gejala perdarahan dari jalan lahir berwarna merah segar, perut ibu tidak sakit, bagian teren dah janin masih tinggi, serta ditunjang dengan hasil USG plasenta menutupi seluruh ostium uteri internum (OUI) maka dapat ditegakkan suatu diagnose yaitu plasenta previa totalis dengan masalah actual perdarahan.
c.    Langkah III. Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial
Pada tahap ini mengantisipasi masalah potensial yang mungkin terjadi atau yang akan dialami oleh ibu               bila tidak mendapat penaganan yang adekuat, didapat melalui pengamatan yang cepat, observasi secara             akurat dan persiapan untuk segala sesuatu yang mungkin terjadi.
Pada kasus plasenta previa dengan adanya perdarahan yang banyak menyebabkan komplikasi pada ibu misalnya: syok  yang disebut syok hipovolemik, anemia terjadi karena adanya perdarahan, bekas perlekatan plasenta yang lebih dekat pada ostium merupakan porte d’entrĂ©e yang mudah tercapai setelah masa inkubasi, kuman-kuman menyerbu ke dalam luka endometrium yang menyebabkan terjadinya infeksi puerperalis yang paling sering menjelma sebagai endometritis pasca persalinan.
Komplikasi juga dapat terjadi pada janin yaitu terjadinya persalinan premature karena adanya perdarahan jalan lahir yang banyak pada umur kehamilan               sekitar 28 minggu mengharuskan dilakukan pengakhiran kehamilan tanpa mempertimbangkan maturitas janin serta asfiksia berat dimana terjadi penurunan tekanan darah yang mendadak sehingga sirkulasi darah terganggu dimana oksigen menurun dan karbondioksida meningkat.
d.    Langkah IV. Tindakan Emergency/ Kolaborasi/konsultasi
Menetapkan intervensi yang harus segera langsung dilakukan oleh bidan maupun dokter kebidanan. Hal ini terjadi pada penderita kegawatdaruratan, kolaborasi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan lain yang lebih ahli sesuai dengan keadaan ibu. Pada tahap ini bidan dapat melakukan tindakan emergency sesuai kewenangannya.
Berdasrkan perdarahan yang terjadi pada ibu dengan plasenta previa harus dilakukan pemberian infuse cairan/darah, pemeriksaan inspekulo secara hati-hati untuk dapat menentukan sumber perdarahan serta teraba plasenta sekitar ostium uteri internum saat dilakukan pemeriksaan dalam dan jika perdarahan banyak dan berlangsung selanjutnya persiapkan operasi Seksio Caesar tanpa memperhitungkan usia kehamilan.
Adapun persiapan pra bedah sebagai berikut :
1)    Menerangkan kepada klien dan keluarganya alasan dilakukan operasi untuk melahirkan janin dan memberikan pengertian serta kekuatan mental kepada mereka dalam menghadapi keadaan ini. Diterangkan pula bahwa untuk operasi ini diperlukan izin/persetujuan klien dan keluarga.
2)    Melakukan pengosongan kandung kencing. Pada operasi perabdominam dipasangkan kateter menetap.
3)    Mencukur rambut pubis didaerah genitalia ekstrena dan rambut daerah dinding perut.
4)    Membaringkan klien pada posisi yang dianjurkan yaitu posisi trendelenberg.
5)    Memasang cairan infuse menggunakan kanula plastic abochat No.16.
6)    Kolaborasi dengan dokter ahli kandungan, dokter ahli anestesi dan dokter anak untuk persetujuan tindakan penanganan plasenta previa.
e.    Langkah V. Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan
Merencanakan tindakan secra komprehensif yang didasari atas rasional tindakan yang relevan dan diakui kebenarannya, sesuai kondisi dan situasi berdasarkan analisa dan asumsi yang seharusnya dikerjakan atau tidak oleh bidan.
Berdasarkan teori penanganan dari plasenta previa dibagi 2 yaitu :
Plasenta previa dengan kehamilan preterm dan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti, belum ada tanda inpartu, keadaan umum ibu cukup baik, janin masih hidup makaq dilakukan penanganan secara ekspektatif yaitu dengan rawat inap, tirah baring, berikan pematangan baru, antibiotic profilaksis, obat tokolitik sampai usia kehamilan       mencapai 36 minggu dan pertimbangkan SC untuk menghindari perdarahan berulang yang lebih banyak. Selain itu, penanganan dilakukan pada klien plasenta previa dengan perdarahan yang aktif dan banyak segera lakukan terapi aktif tanpa memandang maturitas janin.
f.     Langkah VI. Implementasi Asuhan Kebidanan
Langkah implementasi atau pelaksanaan asuhan       di dalam manajemen kebidanan dilaksanakan oleh bidan maupun bekerja sama dengan tenaga kesehatan                      lain berdasarkan rencana yang telah ditetapkan. Pelaksanaan asuhan kebidanan diupayakan dalam waktu singkat dan efektif mungkin, hemat dan berkualitas serta sesuai rencana yang komprehensif.
Berdasarkan rencana tindakan yang telah dipersiapkan sesuai dengan penanganan plasenta previa maka dilakukan implementasi sebagai berikut: observasi keadaan umum ibu, ukur jumlah perdarahan, pemberian obat-obatan, siapkan SC.
g.    Langkah VII. Evaluasi Asuhan Kebidanan
Langkah akhir dari manajemen asuhan kebidanan adalah evaluasi, namun sebenarnya evaluasi ini dilakukan pada setiap langkah Manajemen Asuhan Kebidanan. Pada tahap ini, bidan harus mengetahui sejauh mana asuhan yang diberikan pada ibu.
Berdasarkan implementasi yang dilakukan pada pasien plasenta previa maka dilakukan pemikiran pada pasien untuk menentukan keberhasilan dari intervensi yang diberikan.
D.   Pendokumentasian
Metode untuk langkah pendokumentasian yang disebut SOAP ini didasari dari proses pemikiran pelaksanaan kebidanan. Dipakai untuk mendokumentasikan hasil asuhan ibu dalam rekam         medis sebagai catatan perkembangan atau kemajuan yaitu :
1.    S : Subjektif
Merupakan ringkasan dari langkah I dalam proses manajemen asuhan kebidanan yang diperoleh dari yang dikatakan, disampaikan dan dilakukan oleh ibu melalui anamneses dengan ibu dan keluarganya.
2.    O : Objektif
Merupakan ringkasan dari langkah I dalam proses manajemen asuhan kebidanan yang diperoleh melalui            inspeksi, palpasi, auskultasi dan dari hasil pemeriksaan laboratorium dan USG.
3.    A : Assesment
Merupakan ringkasan dari langkah II, III, IV dalam proses manajemen asuhan kebidanan dibuat kesimpulan berdasarkan dari data subjektif dan objektif sebagai hasil pengambilan keputusan klinis, assesmentnya adalah plasenta previa.
4.    P : Planning
Merupakan ringkasan dari langkah V, VI, VII termasuk konseling dalam proses manajemen asuhan kebidanan. Planning dilakukan berdasarkan hasil kesimpulan dan evaluasi terhadap keputusan ibu yang diambil dalam rangka mengatasi masalah klien untuk memenuhi kebutuhan klien yang berakhir dengan SC.
Setelah pada Bab II diuraiakann mengenai tinjauan umum tentang perdarahan antepartum, tinjauan khusus tentang plasenta previa, proses manajemen asuhan kebidanan dan pendokumentasian, maka selanjutnya akan dibahas tentang studi kasus pada bab selanjutnya (Bab III).

















BAB III
STUDI KASUS
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL PATOLOGI
PADA   NY ”C”  GESTASI   34    36   MINGGU
DENGAN   PLASENTA   PREVIA  TOTALIS
DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR
TANGGAL 11 MEI 2010

No.Register                           : 00126xx
Tanggal MRS                       : 11 – 05 - 2010 jam 08.00 Wita
Tanggal pengkajian            : 11 – 05 - 2010 jam 10.00 Wita
Mahasiswi                             : “AA”
LANGKAH I.  IDENTIFIKASI DAN ANALISA DATA DASAR
A.   Identitas Istri/Suami
Nama                               : Ny “C” / Tn “S”
Umur                                : 37 tahun / 40 tahun
Nikah/lamanya               : 1x / ± 1 tahun
Suku                                : Makassar / Makassar
Pendidikan                     : SD / SMP
Pekerjaan                        : IRT / Petani
Alamat                             : Desa Bontomate’ne, Kec.Turatea,
  Kab. Jenneponto


B.   Keluhan Utama
Ibu mengatakan keluar darah dari jalan lahir berwarna merah                   segar ± 1 sarung
C.   Riwayat Keluhan Utama
1.    Keluhan dirasakan sejak pukul 03.00 Wita dini hari
2.    Ibu mengatakan tidak merasakan nyeri perut.
D.   Riwayat Kehamilan Sekarang
1.    GI  PO  AO
2.    Ibu mengatakan HPHT tanggal 05-09-2009
3.    HTP : tanggal 12-06-2010
4.    Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan tidak pernah mengalami keguguran
5.    Ibu mengatakan umur kehamilannya sudah ± 9 bulan
6.    Ibu mengatakan merasakan pergerakan janinnya kuat terutama pada sisi kiri perut selama bulan Februari 2009 sampai sekarang
7.    Ibu mengatakan selama hamil tidak pernah mengalami nyeri perut hebat
8.    Ibu mengatakan merasa cemas dengan keadaannya
9.    Ibu selalu bertanya tentang penyakitnya
10. Berat badan sebelum hamil 48 kg kenaikan berat badan selama hamil:
Trimester I    : 49 kg
Trimester II   : 52 kg
Trimester III : 56 kg
11.   Ibu mengatakan selama hamil 8 kali memeriksakan kehamilannya di RSUD Lanto Daeng Pasewang Jenneponto
12.   Ibu mengatakan pernah sebelumnya keluar darah sedikit pada     tanggal 07-03-2009 tapi berhenti
13.   Hasil USG tanggal 27-03-2009 kehamilan tunggal, hidup, intra uterin kepala, Djj 132 x/menit, plasenta previa letak rendah.
E.   Riwat Kesehatan / Penyakit Lalu dan Sekarang
1.    Ibu tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, Diabetes Mellitus (DM), dan hypertensi
2.    Tidak ada riwayat kejang
3.    Tidak ada riwayat operasi
4.    Tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, minuman maupun       obat-obatan
F.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak ada riwayat penyakit menurun dan menular dalam keluarga
G.   Riwayat Reproduksi
1.    Riwayat haid
a.    Menarche            : 13 tahun
b.    Siklus haid          : 23 hari
c.    Lamanya                         : 7 hari
d.    Perlangsungan  : tidak ada dismenorhoe
2.    Riwayat ginekologi
a.    Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit gangguan system reproduksi
b.    Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit neoplasma
3.    Riwayat KB (Keluarga Berencana)
Ibu belum pernah menjadi akseptor KB
H.   Riwayat Sosial Ekonomi
1.    Menikah 1 kali dengan suami sekarang ± 1 tahun
2.    Pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami
3.    Ibu dan keluarga sangat senang dengan kehamilan Ibu
4.    Ibu dibantu oleh keluarga dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangganya
5.    Ibu dan keluarga ingin persalinannya ditolong oleh bidan atau dokter serta berlangsung secara normal
I.      Pemenuhan Kebutuhan Dasar
1.    Pola nutrisi
a.    Kebiasaan
1)    Makan nasi + sayur + ikan, tahu, tempe+ susu + buah
2)    Frekuensi makan 3x sehari
3)    Nafsu makan baik
4)    Banyak minum dalam sehari 8-9 gelas.

b.    Perubahan selama perdarahan
Nafsu makan ibu kurang karena cemas dengan keadaanya.
2.    Pola eliminasi
a.    BAK (Buang Air Kecil)
1)    Kebiasaan
(a)  Frekuensi                        : 3-4 kali sehari
(b)  Warna/bau                      : Kuning muda/amoniak
(c)  Gangguan BAK             : Tidak ada
2)    Perubahan selama perdarahan
Ibu BAK  ± 2 kali selama pengkajian
b.    BAB (Buang Air Besar)
1)    Kebiasaan
(a)  Frekuensi                                    : 1 kali sehari
(b)  Warna                              : Kuning kecoklatan
(c)  Gangguan BAB             : Tidak ada
2)    Selama perdarahan ibu tidak pernah BAB
c.    Pola istirahat/tidur
1)    Kebiasaan
(a)  Tidur siang ± 1 ½ jam
(b)  Tidur malam ± 7 jam
2)    Kebiasaan
Selama perdarahan ibu tidak pernah tidur
d.    Personal hygiene
1)    Kebiasaan
(a)  Mandi 2 kali sehari memakai sabun mandi
(b)  Sikat gigi setiap kali sehabis makan dan mandi
(c)  Keramas 2-3 kali seminggu
(d)  Pakaian dalam diganti setiap kali sehabis mandi
2)    Selama perdarahan ibu tidak pernah mandi
J.    Pemeriksaan Fisik
1.    Penampilan ibu tampak bersih
2.    Kesadaran komposmentis
3.    TTV : TD : 120/80                 S  : 36,7oC
            N : 82 x / menit        P : 20 x/menit
4.    Inspeksi
a.    Penyebaran rambut merata,bersih dan tidak mudah rontok
b.    Tidak terdapat oedema pada wajah
c.    Ekspresi wajah ibu tampak cemas
d.    Konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterus
e.    Keadaan gigi lengkap, tidak ada caries, cukup bersih
f.     Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
g.    Terpasang infuse RL botol II pada tangan kanan dengan      tetesan 28 tetes/menit
h.    Payudara simetris kiri dan kanan, putting susu terbentuk hyperpigmentasi pada areola mammae pada saat dipalpasi ada pengeluaran colostrum.
i.      Abdomen tampak tegang tampak adanya striae livide dan linea nigra, tidak ada luka bekas operasi, serta pembesaran perut sesuai umur kehamilan
j.      Tidak ada oedema dan varises pada tungkai dan ekstermitas bawah
k.    Tampak perdarahan dari jalan lahir berwarna merah                 segar ± 1 sarung
5.    Palpasi
a.    Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, vena jugularis, tidak ada massa dan pembengkakan mammae.
b.    Palapasi abdomen
Leopold I              : TFU 3 jrbpx, 32 cm, teraba bokong di fundus
Leopold II             : punggung kanan
Leopold III            : kepala
Leopold IV           : BAP
6.    Auskultasi Djj terdengar jelas pada kuadran kanan bawah, teratur, frekuensi 132x/menit (N : 120-160x/menit)
7.    Lingkar perut 87 cm
8.    TBJ : 87 x 32 = 2784 gram
9.    Jumlah darah yang keluar seluruhnya pada jam 10.30 wita        adalah   ± 250 cc
10.  Hasil pemeriksaan inspekulo oleh dr “A”  :   
a.    Tidak ada kelainan pada vulva dan vagina
b.    Terlihat adanya sedikit gumpalan jaringan atau bantalan                                                                                                                                                                                                                                                                                                          
11. Hasil pemeriksaan penunjang
a.    Hasil pemeriksaan USG tanggal 11-05-2010 kehamilan tunggal, hidup, intra uterin, kepala, Djj 132x/menit, plasenta di segmen bawah rahim (SBR) menutup ostium uteri internum (OUI), diameter biparietal (DBP) umur kehamilan 35 minggu 3 hari.
b.    Hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 11 Mei 2010
Hb                         : 10,6 gr % (N : 12-14 gr%)
Leukosit               : 8,2.103/mm3
                                (N : 5000-10.000/mm3)
Trombosit            : 166.103/mm3 (N : 150.000-350.000/mm3)
CT  waktu bekuan (clothing time)               : 8’50” (N : 7-14 mnt)
BT  waktu perdarahan (blooding time)       : 2’10” ( N : 1-4 mnt)
GDS (gula darah sewaktu)                              : 76mg/dl (N : 2-19 mu)



LANGKAH II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH AKTUAL
Diagnose            : GI PO AO, gestasi 34-36 minggu, situs memanjang, intra uterin, tunggal, hidup, keadaan janin baik, keadaan ibu dengan plasenta previa totalis.
Masalah aktual         : 1. Kecemasan
2.Anemia ringan
1.    GI PO AO
DS : -   Ibu mengatakan  HPHT tanggal 05-09-2009
-       Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan tidak pernah mengalami keguguran
DO : -    HTP tanggal 12-06-2010
-       Otot perut tampak tegang
-       Nampak striae livide
-       Palpasi abdomen
Leopold I           : TFU 3 jrbpx, 32 cm, teraba bokong di fundus
Leopold II          : punggung kanan
Leopold III         : kepala
Leopold IV        : BAP
-       Djj terdengar jelas pada kuadran kanan bawah, teratur,      frekuensi 132x/menit.
Analisa dan interpretasi data
a.    Pembeasaran uterus disebabkan oleh hipertropi otot polos uterus serta serabut-serabut kolagen yang ada menjadi higroskoping akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti perkembangan janin
b.    Pada kehamilan lanjut primigravida sering timbul garis-garis memanjang atau serong pada perut. Garis-garis ini sering disebut striae gravidarum, pada seorang primigravida warnanya membiru dan disebut striae livide.
c.    Yang merupakan tanda pasti kehamilan adalah adanya atau terdengarnya Djj gerakan yang dapat diraba dan dilihat.
2.    Gestasi 34-36 minggu
DS : Ibu mengatakan HPHT tanggal 05-09-2009
-       Ibu mengatakan umur kehamilannya sudah ± 9 bulan
DO : -  Tanggal pengkajian 11-05- 2010
-       Leopold I : TFU 3 jrbpx, 32 cm, teraba bokong di fundus
-       Tanggal USG 11-05- 2010 umur kehamilan 35 minggu 3 hari
-       Hasil USG tanggal 11-05-2010
Analisa dan interpretasi data
a.    Menurut hukum Neagle dari HPHT tanggal 05-09-2009 pengkajian tanggal 11-05-2010 masa gestasi adalah 35 minggu 3 hari (248 hari)
b.    Menurut  Mc. Donald  TFU  32 cm, umur  kehamilan 9 bulan sesuai dengan umur kehamilan
TFU           32   
c.                =              = 9 bulan
3,5             3,5
d.    Hasil USG tanggal  11-05-2010  kehamilan  tunggal, hidup, intra uterin. Kepala, Djj 132 kali/menit, plasenta di segmen bawah rahim (SBR) menutup ostium uteri internum (OUI), diameter  biparietal (DBP) umur kehamilan 35 minggu 3 hari.
3.    Situs memanjang
DS : Ibu mengatakan janinnya bergerak kuat terutama pada sebelah kiri
DO : -   Palpasi abdomen
Leopold I           : TFU 3 jrbpx, 32 cm, teraba bokong di fundus
Leopold II          : punggung kanan
Leopold III         : kepala
-       Djj terdengar jelas pada kuadran kanan bawah, teratur,    frekuensi 132x/menit
Analisa dan interpretasi data
a.    Ada pergerakan bayi tersering pada bagian kanan perut Ibu dan palpasi teraba tahanan pada bagian kiri perut Ibu seperti papan, keras dan pada bagian kanan teraba bagian janin serta terabanya satu kepala pada bagian bawah dan satu bokong pada bagian atas menandakan janin dalam posisi memanjang.
b.    Sumbu panjang janin memanjang terhadap sumbu panjang Ibu (Mochtar R, 2004,) .
4.    Intra uterin
DS : Ibu mengatakan tidak pernah nyeri perut yang hebat selama hamil
DO : -   Pembesaran perut sesuai umur kehamilan
-       Palpasi abdomen
Leopold I           : TFU 3 jrbpx,32 cm,teraba bokong di fundus
Leopold II          : punggung kanan
Leopold III         : kepala
-       Ekspresi wajah biasa pada saat dilakukan palpasi
Analisa dan interpretasi data
a.    Bagian dari uterus yang merupakan tempat pertumbuhan dan perkembangan janin adalah kavum uteri di mana pada bagian ini hasil konsepsi dapat tumbuh dan berkembang hingga aterm tanpa menyebabkan adanya rasa nyeri.(Prawiroharjo.S,2002)
b.    Pada kehamilan ektopik janin tidak dapat tumbuh hingga aterm karena tempat implantasinya tidak memberikan kesempatan untuk tumbuh dan perabaan yang teraba adalah bagian-bagian bagian janin sedangkan pada kehamilan intra uterin bagian janin tidak terlalu jelas pada perabaan seperti halnya pada kehamilan ekstra uterin. (Mochtar.R, 2004)
5.    Tunggal
DS : Ibu mengatakan janinnya bergerak aktif pada perut sebelah kiri
DO : -   Palpasi abdomen
Leopold I           : TFU 3 jrbpx, 32 cm, teraba bokong di fundus
Leopold II          : punggung kanan
Leopold III         : kepala
Leopold IV        : BAP
-       Djj terdengar jelas pada kuadran kanan bawah, teratur,    frekuensi 132x/menit
Analisa dan interpretasi data
Pembesaran perut sesuai umur kehamilan, teraba 1 punggung, 1 bokong, dan 1 kepala serta bagian-bagian kecil janin, Djj terdengar pada satu titik serta pergerakan janin hanya pada satu bagian perut Ibu adalah merupakan tanda kehamilan tunggal.(Mochtar.R, 2004).
6.    Hidup
DS   :   Ibu mengatakan janinnya bergerak aktif pada perut sisi kiri
DO :  Djj  terdengar jelas  pada  kuadran  kanan  bawah,  teratur, frekuensi  132x/menit
Analisa dan interpretasi data
a.    Djj dalam batas normal 120-160x/ menit
b.    Yang termasuk tanda pasti janin hidup adalah pergerakan janin dan Djj dapat terdengar jelas.(Prawiroharjo.S, 2002)
7.    Keadaan janin baik
DS   :   Ibu mengatakan janinnya bergerak aktif pada perut sisi kiri
DO :  Djj  terdengar jelas  pada  kuadran  kanan  bawah,  teratur,   frekuensi  132x/menit

Analisa dan interpretasi data
Adanya pergerakan janin dan Djj dalam batas normal                        antara 120-160x/menit menandakan janin dalam keadaan baik. (Mochtar.R,2004)
8.    Keadaan Ibu dengan plasenta previa totalis
DS : -  Ibu mengatakan keluar darah  dari jalan lahir berwarna merah segar  ± 1 sarung yang dirasakan sejak pukul 03.00 dini hari tanggal 11-05-2010
-     Ibu mengatakan tidak merasakan nyeri perut
DO : - Hasil USG tanggal 11-05-2010 plasenta di segmen bawah rahim (SBR) munutupi ostium uteri internum (OUI)
          - Hasil pemeriksaan inspekulo oleh dr “A” :
a.    Tidak ada kelainan pada vulva dan vagina
b.    Terlihat adanya sedikit gumpalan jaringan atau bantalan
Analisa dan interpretasi data
Plasenta previa totalis adalah plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus dan menutupi seluruh ostium uteri internum atau bila pusat plasenta bersamaan dengan sentral kanalis servikalis di mana tanda utama plasenta previa adalah perdarahan tanpa rasa sakit dan berlangsung secara tiba-tiba.(Prawiroharjo.S, 2002)  .
MASALAH AKTUAL
1.    Kecemasan
DS : -  Ibu selalu bertanya tentang penyakitnya
-   Ibu mengatakan cemas dengan keadaannya
DO : -  Ekspresi wajah ibu tampak cemas
-   Tingkat pengetahuan Ibu tentang kesehatan masih kurang
Analisa dan interpretasi data
Kurangnya pengetahuan ibu tentang keadaanya menyebabkan emosinya labil sehingga timbul rasa cemas.
2.    Anemia ringan
DS : ibu mengatakan keluar darah dari jalan lahir yang dirasakan sejak tanggal 11-05-2010 jam 03.00 dini hari sebanyak ± 1 sarung berwarna merah segar
DO : -  Tampak perdarahan dari jalan lahir berwarna merah segar
-    Jumblah darah yang keluar seluruhnya pada jam 10.30 wita adalah  ± 250 cc
-    Hb 10,6 gr%
Analisa dan interpretasi data
a.  Karena terjadinya perdarahan menyebabkan terjadi penurunan kadar haemoglobin dalam darah sehingga dapat terjadi anemia.
b.  Berdasarkan data objektif di mana kadar Hb 10,6 gr% maka hal ini termasuk anemia ringan.(Manuaba. IBG,2008 )

LANGKAH III.ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
Potensial terjadinya :
1.    Hipoksia Janin
DS :   ibu mengatakan keluar darah dari jalan lahir yang dirasakan sejak tanggal 11-05-2010 pukul 03.00 Wita dini hari sebanyak ± 1 sarung berwarna merah segar
DO : - Tampak pengeluaran darah berwarna merah segar dari jalan             lahir ± 1 sarung
-   Hasil USG tanggal 11-05-2010 plasenta berada di bawah segmen bawah rahim (SBR) menutupi ostium uteri internum (OUI)
-   Djj  terdengar jelas  pada  kuadran  kanan  bawah,  teratur, frekuensi  132x/menit
Analisa dan interpretasi data
Plasenta previa dapat menyebabkan hipoksia janin karena pada plasenta previa dapat terjadi pelepasan plasenta secara dini sehingga dapat menganggu pertukaran oksigen dari ibu ke janin bahkan dapat menyebabkan terputusnya hubungan antara ibu  dan janin .
.(Manuaba, 2008)

2.    Perdarahan
DS :   Ibu   mengatakan    keluar   darah   dari    jalan   lahir    sejak    tanggal 11-05-2010 pukul 03.00 Wita dini
DO : -   Tampak   perdarahan   dari   jalan   lahir   berwarna   merah                
               segar   
-     Jumlah darah yang keluar seluruhnya pada jam 10.30 wita   adalah ± 250 cc
-     Hasil USG tanggal 11-05-2010 kehamilan tunggal, hidup, intra uterin, kepala, Djj 132 kali/menit, plasenta previa di segmen bawah rahim (SBR) menutup ostium uteri internum (OIU), diameter biparietal ( DBP), umur kehamilan 35 minggu 3 hari.
Analisa dan interpretasi data
Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah rahim, pelebaran segmen bawah rahim dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat di situ tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dinding rahim, pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. ( Prawiroharjo. S, 2002 )

LANGKAH IV. EVALUASI PERLUNYA TINDAKAN SEGERA/KOLABORASI/
                           KONSULTASI
Konsultasi dengan :  1) Dokter ahli obgin untuk tindakan SC              
                                  2) Ahli anastesi
                               3) Petugas perinatologi
LANGKAH V. RENCANA TINDAKAN
Diagnosa                : Gi Po Ao, gestasi 34-36 minggu, situs memanjang, intra    uterin, tunggal, hidup, keadaan janin baik, keadaan ibu dengan plasenta previa totalis.
Maslah aktual        :  1. Kecemasan 
                                    2. Anemia ringan
Masalah potensial   : 1. Hipoksia janin
                                2. Perdarahan
Tujuan                      : Tindakan SC berjalan dengan baik
Kriteria                   : 1. Keadaan ibu baik
                                    2. TTV dalam batas normal :
                                         -  TD : Systole 90-130 mmHg
           Dystole 70-90 mmHg
                                         -  N  : 72-84 x/menit
                                          -  S : 36,5-37,2oC
                                         -  P : 16-24 x/menit
3. Keadaan janin baik, Djj normal 120-160 x/menit
4. Tidak terjadi perdarahan

Rencana tindakan :
1.    Observasi Djj 
Rasional : Merupakan indicator pemantauan keadaan janin
2.    Observasi tetesan infuse
Rasional : Untuk mengetahui kelancaran tetesan infuse  sesuai dengan intruksi dokter
3.    Ukur jumblah darah yang keluar
Rasional : Merupakan indicator pemantauan keadaan ibu
4.    Penatalaksaan pemberian  2-3 liter/menit
Rasional : Agar ibu tidak kekurangan
5.    Diskusikan dengan keluarga untuk menandatangani persetujuan tindakan operasi (informed consend)
Rasional : Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat
6.    Diskusikan pada keluarga untuk persiapan transfuse darah
Rasional :Keluarga ibu sudah menyediakan
7.    Beri dukungan psikologis, spiritual dan dorongan moral
Rasional : Agar ibu lebih optimis menghadapi kebutuhan saat operasi
8.    Cukur rambut pubis
Rasional : Memudahkan tindakan operasi dan mencegah infeksi
9.    Pasang keteter tetap
      Rasional: Untuk mengetahui keseimbangan cairan antara input dan output
10. Antar Ibu keruang operasi
Rasional : Operasi section sesarea dapat berjalan dengan segera atau memperlancar pelaksanaan tindakan operasi
11. Bantu ibu naik di meja operasi
Rasional : Mempersiapkan posisi pasien sebelum tindakan operasi
LANGKAH VI. IMPLEMENTASI
Tanggal 11-05-2010 jam 11.00 Wita
1.    Mengobservasi  Djj
Hasil :  jam 11.00 wita : Djj = 132 x/menit
2.    Mengobservasi tetesan infuse
Hasil : Tetesan infuse berjalan lancar 28 tetes/menit
3.    Mengukur jumlah darah yang keluar 
Hasil :  Jumblah darah yang keluar seluruhnya pada jam 11.00 wita adalah   ± 300 cc
4.    Mendiskusikan pada keluarga untuk menandatangani persetujuan tindakan operasi (informed consend)
Hasil : Surat persetujuan sudah ditandatangani oleh suami ibu
5.    Mendiskusikan pada keluarga untuk persiapan  transfuse darah
Hasil : Keluarga ibu sudah menyediakan
6.    Memberi dukungan psikologis, spiritual dan dorongan moral
Hasil : Keluarga ibu sudah menyediakan
7.    Mencukur rambut pubis
Hasil : Sudah dilakukan
8.    Memasang keteter tetap
Hasil : Sudah dilakukan
9.    Mengantar ibu ke ruang operasi
Hasil : Sudah dilakukan
10. Membantu  ibu naik di meja operasi
Hasil : Sudah dilakukan
LANGKAH VII.  EVALUASI
 Evaluasi tanggal 11-05-2010 jam 12.30 wita
1.    Tidak terjadi hipoksia janin dan perdarahan pada ibu
2.    Keadaan umum ibu baik, TTV dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg                    S : 36,7oC
N   : 82 x/menit                           p : 20x/menit
3.    Plasenta previa teratasi dengan jalan operasi sectio sesarea
4.    Operasi dilakukan pada tanggal 11-05-2010 jam 12.30 Wita
5.    Proses operasi berjalan lancar tanpa komplikasi baik ibu maupun janin, bayi lahir pada pukul 12.40 Wita,BBL : 2750 gr, PBL : 48 cm, jenis kelamin perempuan, apgar skor 8/10.
6.   Ibu tidak cemas lagi

PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL PATOLOGI
PADA    NY “C”   GESTASI   34    36   MINGGU
DENGAN    PLASENTA   PREVIA   TOTALIS
DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR
TANGGAL 11 MEI 2010


No.Register                           : 00126xx
Tanggal MRS                       : 11 – 05 - 2010 jam 08.00 Wita
Tanggal pengkajian            : 11 – 05 - 2010 jam 10.00 Wita
Mahasiswi                             : “AA”
SUBJEKTIF
Identitas Istri/Suami
Nama                         : Ny “C" Tn “S”
Umur                          : 37 tahun / 40 tahun
Nikah/lamanya         : 1x / ± 1 tahun
Suku                          : Makassar / Makassar
Pendidikan               : SD / SMP
Pekerjaan                  : IRT / Petani
Alamat                       : Desa Bontomate’ne, Kec. Turatea, Kab. Jenneponto


1.    Ibu mengatakan HPHT tanggal 05-09-2009
2.    Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan tidak pernah mengalami keguguran
3.    Ibu mengatakan umur kehamilannya sudah ± 9 bulan
4.    Ibu mengatakan merasakan pergerakan janinnya kuat terutama pada sisi kiri perut sejak bulan Februari 2009 sampai sekarang
5.    Ibu mengatakan selama hamil tidak pernah mengalami nyeri perut hebat
6.    Berat badan sebelum hamil 48 kg
7.    Ibu mengatakan selama hamil 8 kali memeriksakan di RSUD Lanto Daeng Pasewang
8.    Ibu masuk rumah sakit dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir yang dirasakan sejak pukul 03.00 Wita dini hari tadi sebanyak ± 1 sarung berwarna merah segar
9.    Ibu mengatakan tidak merasakan nyeri perut
10. Ibu  mengatakan  pernah   sebelumnya keluar   darah  sedikit pada tanggal 07-03-2009  tapi berhenti
11. Ibu pernah USG tanggal 27-03-2010 dengan diagnosa plasenta previa letak rendah.                                                                                                                                                 


OBJEKTIF
1.    Penampilan ibu tampak bersih
2.    Kesadaran komposmentis
3.    TTV : TD : 120/80 mmHg                      S : 36,7oC
          N   : 82 x/menit                             p : 20x/menit
4.    Pertambahan berat badan tiap trimester berdasarkan kartu ANC
a.    Trimester I     : 49 kg
b.    Trimester II    : 52 kg
c.    Trimester III   : 56 kg
5.    Inspeksi
a.    Penyebaran rambut merata, bersih dan tidak mudah rontok
b.    Tidak terdapat oedema pada wajah
c.    Ekspresi wajah ibu tampak cemas
d.    Konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterus
e.    Keadaan gigi lengkap, tidak ada caries, cukup bersih
f.     Terpasang infuse RL botol II pada tangan kanan dengan             tetesan 28 tetes/menit
g.    Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
h.    Payudara simetris kiri dan kanan, putting susu terbentuk, hyperpigmentasi pada areola mammae, pada saat dipalpasi ada pengeluaran colostrum.
i.      Abdomen tampak tegang tampak adanya striae livide dan linea nigra, tidak ada luka bekas operasi, serta pembesaran perut sesuai umur kehamilan
j.      Tidak ada oedema dan varises pada tungkai  dan ekstermitas bawah
k.    Tampak perdarahan dari jalan lahir berwarna merah segar ± 1 sarung.
6.    Palpasi
a.    Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, vena jugularis.
b.    Tidak ada massa dan pembengkakan mammae.
c.    Abdomen
d.    Leopold I        : TFU 3 jrbpx, 32 cm, teraba bokong di fundus
Leopold II       : punggung kanan
Leopold III      : kepala
Leopold IV     : BAP
e.    Tidak ada kontraksi uterus
7.    Auskultasi Djj terdengar jelas pada kuadran kanan bawah, teratur, frekuensi 132x/menit (N : 120-160x/menit)
8.    Lingkar perut 87 cm
9.    TBJ : 87 x 32 = 2784 gram
10. Hasil pemeriksaan inspekulo oleh dr “A”  :
a.    Tidak ada kelainan pada  vulva dan vagina
b.    Terlihat adanya sedikit gumpalan jaringan atau bantalan
11. Jumlah darah yang keluar seluruhnya pada jam 10.30 wita               adalah  ± 250 cc
12. Hasil pemeriksaan penunjang
a.    Hasil pemeriksaan USG tanggal 11-05-2010 kehamilan tunggal, hidup, intra uterin, kepala, Djj 132x/menit, plasenta di segmen bawah rahim (SBR) menutup ostium uteri internum (OUI),diameter biparietal (DBP) umur kehamilan 35 minggu 3 hari.
b.    Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 11-05-2010
     Hb                   : 10,6 gr % (N : 12-14 gr%)
     Leukosit          : 8,2.103/mm3
                               (N : 5000-10.000/mm3)
     Trombosit       : 166.103/mm3 (N : 150.000-350.000/mm3)
      CT  waktu bekuan (clothing time)                     : 8’50” (N : 7-14 mnt)
      BT  waktu perdarahan (blooding time)             : 2’10” ( N : 1-4 mnt)
      GDS (gula darah sewaktu)                                                : 76mg/dl (N : 2-19 mu)
ASSESMENT
Diagnosa                : Gi Po Ao, gestasi 34-36 minggu, situs memanjang, intra    uterin, tunggal, hidup, keadaan janin baik, keadaan ibu dengan plasenta previa totalis.
Masalah aktual      :  1. Kecemasan 
                                     2. Anemia ringan                                                                                                                   
Masalah potensial               : 1. Hipoksia janin
                                   2.Perdarahan
PLANNING
Tanggal 11-05-2010, jam 11.00 wita
1.    Mengobservasi Djj
Hasil : Jam 11.00 wita : Djj = 132 x/menit  
2.    Mengobservasi tetesan infuse
Hasil : Tetesan infuse berjalan lancar 28 tetes/menit
3.    Mengukur jumlah darah yang keluar 
Hasil : Jumlah  darah  yang   keluar   seluruhnya   pada   jam   11.00   wita
           adalah   ± 300 cc
4.    Mendiskusikan pada keluarga untuk menandatangani persetujuan tindakan operasi (informed consend)
Hasil : Surat persetujuan sudah ditandatangani oleh suami ibu
5.    Mendiskusikan pada keluarga untuk persiapan  transfuse darah
Hasil : Keluarga ibu sudah menyediakan
6.    Memberi dukungan psikologis, spiritual dan dorongan moral
Hasil : Keluarga ibu sudah menyediakan
7.    Mencukur rambut pubis
Hasil : Sudah dilakukan
8.    Memasang keteter tetap
Hasil : Sudah dilakukan
9.    Mengantar ibu ke ruang operasi
Hasil : Sudah dilakukan
10. Membantu  ibu naik di meja operasi
Hasil : Sudah dilakukan



LAPORAN OPERASI

Dokter ahli obgyn                : dr.”R”
Asisten I                                 : dr. “I”
Asisten II                                : dr. “E”
Dokter anastesi                    : dr. “W” .
Jenis operasi                                    : SSTP (Sectio Sesarea Transversal Profunda)
Tanggal operasi                   : 11 mei 2010 jam 12.30 Wita

1.   Pasien terbaring terlentang terpasang infus RL 20 tetes/menit di tangan kanan di bawah pengaruh spinal anastesi.
2.   Asepsi dan antisepsi lapangan operasi dengan kasa bethadine.
3.   Tutup seluruh tubuh dengan handuk steril kecuali muka dan lapangan operasi.
4.   Insisi pranenstesi 10 cm, perdalam secara tajam dan tumpul, sampai terlihat peritoneum.
5.   Buka peritoneum, tampak uterus gravid bebaskan vesikaliuterus sampai kedistal.
6.   Insisi SBR 10 cm, perdalam secara tajam dan tumpul, hingga terlihat cavum uteri.
7.   Lahirkan bayi secara berturut-turut, kepala, bahu, badan, bokong dan kaki pada pukul 12.40 Wita, BBL : 2750 gram, PBL : 48 cm, jenis kelamin : perempuan, Apgar score : 8/10.
8.   Injeksi oxitocin intramural, lahirkan plasenta, secara manual plasenta kesan lengkap
9.  Bersihkan cavum uteri, kontrol perdarahan, perdarahan (-).
10. Jahit dinding uterus lapis demi lapis
a.  Miometrium I dengan catgut no. 0.0 jelujur
b.  Miometrium II dengan catgut no. 0.0 jelujur
c.  Parametrium dengan polisof no. 0.0 jelujur
11. Kontrol perdarahan, perdarahan tidak ada.
12. Bersihkan cavum abdomen dengan NaCl 0,9 %.
13. Jahit abdomen lapis demi lapis
a.    Peritoneum dengan catgut no. 1.0 jelejur
b.    Obat dengan catgut no. 2.0 jelujur
c.    Fasea dengan chromic catgut no.2.0 terputus
d.    Subcutis dengan catgut no. 2.0 terputus
e.    Cutis dengan catgut no. 3.0 subcutiscules
14. Bersihkan lika operasi dengan kasa bethadine
15. Tutup luka operasi dengan verban
16. Operasi selesai.
Setelah pada Bab III diuraikan tentag studi kasus maka, selanjutnya akan diuraikan  tentang pembahasan kasus pada Bab selanjutnya (Bab IV).


















BAB IV
PEMBAHASAN KASUS
            Pada bab ini penulis akan menguraikan kesenjangan dan kesesuaian antara teori dan hasil studi kasus pada pelaksanaan dan penerapan asuhan kebidanan pada Ny “C” dengan kasus antenatal gestasi 34 – 36 minggu dengan plasenta previa totalis di RSUD Labuang Baji Makassar.
            Dalam penerapan asuhan kebidanan secara teoritis yang dimulai dari pengumpulan data, identifikasi diagnosa/masalah aktual, diagnosa/masalah potensial, perlu tindakan segera dan kolaborasi, rencana tindakan dan evaluasi  asuhan kebidanan. Untuk mudah memahami kesenjangan dan kesesuaian yang terjadi pada kasus tersebut diuraikan sebagai berikut :
A.   LANGKAH I. PENGUMPULAN DATA
Pada tahap ini, penulis tidak menemukan hambatan yang berarti karena pada saat pengumulan data, baik klien, suami, maupun  keluarga klien selalu terbuka untuk memberikan informasi yang diperlukan berhubungan dengan keadaan ibu dan perawatannya sehingga mempermudah dalam pengumpulan data.  Selain itu, didukung  pula dengan adanya bantuan serta bimbingan dari bidan dan dokter yang bertugas di RSUD Labuang Baji pada saat itu, sehingga penulis dapat memperoleh data yang akurat sehubungan dengan kasus/kondisi klien tersebut.
Pada tinjauan pustaka pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnase, pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi) pemeriksaan inspekulo dan pemeriksaan penunjang.
Pada tinjauan pustaka/teori yang disebutkan bahwa tanda gejala plasenta previa totalis adalah :
a.    Perdarahan tanpa rasa sakit pada saat tidur atau sedang melakukan aktivitas.
b.    Umumnya terjadi pada trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak  mengalami perubahan.
c.    Darahnya berwarna merah segar.
d.    Bagian terendah janin belum masuk pintu atas panggul.
e.    Biasanya terjadi kelainan letak seperti letak lintang atau letak sungsang.
Berdasarkan asuhan yang telah dilaksanakan dalam pengumpulan data pada kasus Ny  “C”  didapatkan perdarahan sebanyak ± 1 sarung berwarna merah segar, terjadi pada trimester III, bagian terendah janin belum masuk pintu atas panggul, hasil USG implantasi plasenta pada segmen bawah rahim (SBR) menutupi seluruh ostium uteri internum (OIU).   
                 Pada kasus Ny “C” tidak terdapat kesenjangan pada pengumpulan data karena pengumpulan data di sesuaikan dengan teori yang ada.
B.   LANGKAH II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH AKTUAL
                 Dalam menegakkan suatu diagnosa atau masalah aktual kebidanan didukung atau ditinjau oleh beberapa data,  baik subjektif objektif yang diperoleh dari hasil pengkajian yang dilakukan kemudian analisa dan interpretasi data maka diperoleh diagnosa atau masalah aktual sesuai teori diagnosa kehamilan adalah amenorhoe teraba bagian janin dan terdengar Djj sedangkan tanda pasti dari plasenta previa adalah perdarahan tanpa rasa nyeri, berwarna merah segar, terjadi secara tiba-tiba, umumnya pada trimester ke III, umur kehamilan sekitar 28 minggu.
                 Pada inspeksi  dijumpai perdarahan pervaginam encer sampai bergumpal,  pemeriksaan fisik dijumpai keaadaan bervariasi dari keadaan normal sampai syok, keadaan umum menurun sampai koma. Pemeriksaan palpasi abdomen janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur kehamilan. Karena plasenta  di segmen bawah rahim, maka dapat dijumpai kelainan janin dalam rahim dan bagian terendah masih tinngi dan pemeriksaan dalam dilkukan di atas meja operasi dan siap untuk segera mengambil tindakan untuk menegakkan diagnosa pasti serta ditunjang dengan hasil USG : plasenta berada di segmen bawah yang menutupi seluruh ostium uteri internum adalah plasenta previa totalis.
                 Berdasarkan  data  subjektif dan objektif serta ditunjang dengan hasil USG  maka  dapat  dikatakan bahwa  diagnosa pada   kasus  Ny  “C”  yaitu GI PO AO, gestasi 35 minggu situs memanjang, intra uterin, tunggal, hidup, keadaan janin baik, keadaan ibu dengan plasenta previa totalis perdarahan tanpa rasa nyeri, berwarna merah segar,terjadi secara tiba-tiba, umumnya pada trimester ke III, umur kehamilan sekitar 28 minggu dengan masalah aktual adalah kecemasan dan anemia ringan.
                 Menginterpretasikan data secara khusus (spesifik) kedalam suatu rumusan diagnosa atau masalah. Diagnosa lebih sering diidentifikasi oleh bidan yang difokuskan pada apa yang dialami oleh seorang individual, sedang masalah yang berhubungan dengan bagaimana seseorang merugikan suatu masalah. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek yang telah dilaksanakan dalam menegakkan suatu diagnosa.
C.   LANGKAH III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL
Dengan adanya perdarahan yang menyebabkan efek terhadap janin diantaranya kematian dan kesakitan sangat tinggi sebagai akibat dari perdarahan pervaginam yang hebat. Kematian perinatal atau neonatal mungkin terjadi, pelepasan plasenta secara dini dan konsekuensi hipoksia janin dapat mengakibatkan kelahiran janin cacat mental, cacat fisik dan dapat mengakibatkan efek terhadap ibu seperti syok, penyakit gangguan pembekuan darah, gagal ginjal dan ibu dapat meninggal atau hidup dengan penyakit yang menetap, serta dapat terjadi kelainan plasenta.
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengkajian,tidak ada perbedaan antara tinjauan kepustakaan dengan data yang ditemukan pada kasus, di mana komplikasi yang sering muncul pada kasus plasenta previa tergantung dari penanganannya, apabila pada kasus Ny “ C” tidak dilakukan penanganan yang tepat maka kasus ini akan berlanjut menjadi perdarahan yang hebat dan dapat mengakibatkan, hipoksia janin dan syok pada ibu  yang dapat mengancam jiwa ibu dan janin.
Pada tahap ini mengantisipasi masalah potensial yang mungkin terjadi atau yang akan dialami oleh ibu bila tidak mendapat penanganan yang adekuat, didapat melalui pengamatan yang cepat, observasi secara akurat dan persiapan untuk segala sesuatu yang mungkin terjadi.
D.   LANGKAH IV.TINDAKAN EMERGENCY/KOLABORASI/ KONSULTASI
Berdasarkan beratnya perdarahan yang terjadi pada ibu dengan plasenta previa segera perbaiki keadaan umum, pemasangan infuse RL dan apabila terjadi syok hipovolemik yang disertai dengan perdarahan aktif yang konsisten harus segera kolaborasi dengan dokter obgyn dan bagian perinatologi untuk tindakan seksio sesarea demi keselamatan ibu dan janin serta persiapan darah untuk transfusi bila kadar Hb kurang dari 8 gr%.
Pada kasus Ny “C” dilakukan segera perbaiki keadaan umum, pemasangan infus RL dengan tetesan 28 tetes/menit serta kolaborasi dengan dokter ahli obgyn untuk tindakan SC, ahli anastesi dan petugas perinatologi.
Menetapkan intervensi yang harus segera langsung  dilakukan oleh bidan maupun dokter kebidanan. Hal ini terjadi pada penderita kegawatdaruratan, kolaborasi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan lain yang lebih ahli sesuai dengan keadaan ibu. Pada tahap ini bidan dapat melakukan tindakan emergency sesuai kewenagannya dan tidak ada kesenjangan antara teori dengan asuhan.
E.   LANGKAH V. RENCANA TINDAKAN ASUHAN KEBIDANAN
            Memberikan penjelasan tentang keadaan yang dialami oleh Ny “C” dilihat dari kondisi yang mengalami perdarahan dengan umur           kehamilan 35 minggu, sudah dikatakan cukup bulan. Untuk mengantisipasi masalah tersebut segera dilakukan tidakan kolaborasi dengan dokter untuk melakukan tindakan seksio sesarea.
            Terapi aktif (tindakan segera), wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera dilaksanakan secara aktif tanpa memandang maturitas janin, untuk didiagnosa plasenta previa  dan menentukan cara menyelesaikan persalinan setelah semua persyaratan dipenuhi lakukan PDMO jika : infus/transfuse telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap, kehamilan ≥ 37 minggu (berat              badan ≥ 2500 gr) atau inpartu, janin telah meninggal, perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu atas panggul.
            Dalam membuat perencanaan, ditentukan tujuan dan kriteria yang akan dicapai dalam menerapkan asuhan kebidanan pada Ny “C” dengan plasenta previa totalis yaitu kondisi ibu dan janin baik, tidak terjadi perdarahan dan TTV dalam batas normal untuk mencapai tujuan tersebut, tindakan yang dilakukan adalah rencana terminasi kehamilan dengan cara section caesarea.
            Perencanaan pada kasus Ny “C” dan tinjauan pustaka tidak ada kesenjangan, karena setiap perencanaan, disesuaikan dengan kebutuhan pasien serta tujuan dan kriteria yang akan dicapai.
F.    LANGKAH VI. IMPLEMENTASI
           Langkah implementasi atau pelaksanaan asuhan  di dalam manajemen kebidanan dilaksanakan oleh bidan maupun bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan rencana yang telah ditetapkan. Pelaksanaan asuhan kebidanan diupayakan dalam waktu singkat dan efektif mungkin, hemat dan berkualitas serta sesuai rencana yang komprehensif.
           Pada tahap pelaksanaan asuhan kebidanan pada Ny “C” telah dilaksanakan sesuai rencana yaitu dilakukan terminasi kehamilan dengan cara section caesarea.
           Dalam hal ini penulis tidak menemukan permasalahan yang berarti, hal ini ditunjang oleh pasien dan keluarganya dapat menerima semua anjuran dan tindakan yang diberikan.
G.   LANGKAH VII. EVALUASI
           Evaluasi merupakan langkah akhir dari proses manajemen kebidanan, pada tahap ini teori maupun asuhan tidak ada kesenjangan yang terjadi. Dalam hal ini, tidak terjadi hipoksia pada janin dan tidak terjadi syok pada ibu, keadaan umum ibu baik dan TTV dalam batas normal,  plasenta previa teratasi dengan jalan operasi section sesarea, operasi dilakukan pada tanggal 11-05-2010 jam 12.30 wita dan ibu tidak cemas lagi   
           Pada tahap ini penulis dapat melaporkan bahwa tindakan operasi yang dilakukan pada Ny “C” berlangsung baik ± 1 jam.
Setelah pada Bab IV diuraikan tentang pembahasan kasus maka, selanjutnya akan diuraikan tentang kesimpulan dan saran pada Bab selanjutnya (Bab V).













BAB V
PENUTUP
Setelah mempelajari teori dan konsep asuhan antenatal patologi dan pengalaman di lahan praktek melalui studi kasus pada Ny. “C” dengan kasus SC dengan plasenta previa totalis maka dapat ditarik kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut :
A.    Kesimpulan                                                                                                                                                             
a.    Kesimpulan berdasarkan 7(tujuh) langkah varney:
1.    Pada pengkajian Ny. “C” didapatkan tanda dan gejala sesuai dengan teori  yaitu adanya perdarahan pervaginam tanpa rasa nyeri dan tanpa sebab serta pada hasil USG                    tanggal 11-05-2010 didapatkan kehamilan tunggal, hidup, intra uterin, kepala, Djj 132 kali/menit, plasenta di segmen bawah rahim (SBR) menutup ostium uteri internum (OIU), umur kehamilan 35 minggu 3 hari.
2.    Diagnosa plasenta previa totalis pada Ny. “C”  didasarkan pada hasil USG tanggal 11-05-2010 dan ditandai dengan adanya perdarahan pervaginam tanpa rasa nyeri dan terjadi tanpa sebab.
3.    Potensial terjadinya hipoksia janin dan perdarahan didasarkan pada hasil USG tanggal 11-05-2010 dan perdarahan pervaginam tanpa rasa nyeri dan terjadi tanpa sebab.  
4.    Konsultasi dengan dokter ahli obgin untuk tindakan SC, ahli anastesi, dan petugas perinatologi.
5.    Rencana tindakan disesuaikan dengan tujuan yaitu tindakan SC berjalan dengan baik.
6.    Implementasi  dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan.
7.    pada Ny. “C”  dilakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan yaitu observasi TTV, Djj, tetesan infuse, dan operasi SC dilakukan pada  tanggal 11-05-2010 jam 12.30 wita berjalan lancar tanpa komplikasi baik ibu maupun janin.                                                                                                                                                                                                                                  
b.    Pendokumentasian hasil asuhan kebidanan plasenta previa totalis pada Ny. ‘C” berdasarkan SOAP. 
B.Saran
1.    Bagi petugas kesehatan 
Dalam setiap melakukan asuhan berdasarkan sistematika asuhan dapat mengidentifikasi masalah pada ibu serta melakukan tindakan dengan cepat dan tepat
2.    Bagi institusi pendidikan
Demi mencapai tujuan kebidanan yang baik perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui jenjang pendidikan yang lebih kepada bidan sehingga memadai untuk menunjang pelaksanaan tugas dan tercapainya pelayanan kesehatan yang optimal.
3.    Bagi Pemerintah
Pengadaan sarana dan prasarana sangat diperlukan untuk menunjang pelayanan bagi kesehatan ibu dan anak baik bersifat pelayanan rutin maupun emergency.

























DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, f, 2001, Obstetrical Haemorhage Wiliam Obstetrics,       Edisi 18, Lange USA, International Inc Appleton. Halaman 851.

Manuaba. IBG, 2008, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, Jakarta, EGC, Halaman 262.

Manuaba. dkk, 2008, Gawat Darurat Obstetri-Ginekologi dan Obstetri-Ginekologi Sosial Untuk Pendidikan Bidan, Kedokteran EGC, Jakarta, Halaman 82.

Mochtar. R, 2004, Obstetri Operatif dan Obstetri Sosial,                       Edisi 2, Jilid 2, EGC, Jakarta, Halaman 117-132.

Prawirohardjo. S, 2002, Ilmu Kebidanan, Edisi 3, Cetakan 6, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Halaman 160 – 166

Risdingrum. R, 2008, Penatalaksanaan Terapi Latihan Pada Kondisi Post Sectio Caesaria Akibat Plasenta Previa Totalis, Fakultas Ilmu Kesehatan universitas Muhammadiyah, Surakarta.

Rosaningtyas. FW, 2009, Hubungan Antara Paritas Dengan Plasenta Previa Di Rumah Sakit Umum Daerah Sunan Kalijaga Demak, Fakultas Kedokteran Unifersitas Muhammdiyah, Surakarta.

Saifuddin. AB, 2002, Ilmu Kebidanan, Edisi 3, Cetakan 6, Yayasan bina Pustaka, Jakarta, Halaman 186, 362-376.

Saifuddin. AB, 2002, Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal                      dan Neonatal, Edisi I, Cetakan  3, Yayasan BIna Pustaka Sarwono Prawirihardjo, Jakarta, Halaman 160-166.

Sastrawinata. S, 2004, Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi,    Edisi 2, EGC, Jakarta, Halaman 83-91.

Varney. H, 1999, Buku Saku Bidan, Widya Medika, Jakarta,          Halaman 126-224.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar